DH. Ismail Sitanggang, M.Si, Direktur Visi Aulia Jaya Group, perusahaan yg bergerak di bidang Penerbitan, Percetakan, Event Organizer & Konsultan bisnis. Mantan Ketua Bid. Promosi Kader HMI cabang Ciputat, Ketua Dewan Predium Formasi, Pengurus Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, DPP BISMA dan pengurus KAHMI, kini dipercaya menjadi Wakil Pemimpin Perusahaan Majalah CSR Review, pengurus CFCD DKI Jakarta, BKKKS Jakarta. Selain aktif mengurusi bisnis dan beragam organisasi yang diikutinya, ia juga mulai menekuni karir di bidang training motivasi dan tulis menulis. Suami dari Tety Muhithoh-Mahasiswi Pasca Sarjana UI- ini telah menulis 7 buku & puluhan buku lainnya yang ditulis bersama tim Visi Aulia Jaya dan rekan-rekan bisnisnya. Menurut Pengagum KH. Imam Zarkasyi, Achmad Bakrie, Om William ini, Indonesia akan sejahtera bila banyak pengusahanya. Untuk obsesi tersebut kini ayah tiga putra ini bersama timnya sedang bekerja keras membangun sekolah bisnis bagi tunas wirausaha muda dan UMKM. Yuk bersinergi membangun Indonesia Jaya. Kalau bukan kita siapa lagi...



Minggu, 18 Juli 2010

Bekerja dulu atau langsung terjun menjadi Pengusaha?

Kami banyak mendapat pertanyaan dari para sahabat muda Indonesia tentang kegamangannya dalam menentukan sikap: apakah bekerja dulu atau langsung terjun memulai usaha.

Pertanyaan ini sangat cerdas, karena memang ada pandangan yang mengatakan, " Kalau mau kaya ( jadi pengusha), buat apa sekolah?" Sebaliknya ada juga pandangan yang mengatakan," ini era globalisasi bung, Kalau mau sukses otentik harus Cerdas berusaha dan baru kemudian buka usaha".

Kedua Pandangan diatas masing-masing mengandung kebenaran dan juga punya kelemahan. Kenapa? Umumnya sarjana, seringkali ragu-ragu memulai usaha dari nol. Sebab para sarjana seringkali telah mendapat tawaran bekerja dengan gaji cukup menggiurkan. Sementara itu berwirausaha pada tingkatan self bisnis, seringkali harus bekerja keras, full time dengan resiko belum tentu mendapat penghasilan sebesar bila ia langsung bekerja dan seringkali hal itu berlangsung dalam waktu yang cukup lama.

Namun, sebagai pengusaha, penulis menyarankan kaum muda, bahwa keduanya bisa tetap dipertemukan. Artinya, boleh juga bekerja sambil mengumpulkan modal, tetapi sekali lagi dengan niat untuk terjun menjadi pengusaha bila modal dan pengetahuan sudah terpenuhi.

Ketika bekerja itulah anda menabung sebagian penghasilan, menyisihkan sebagian penghasilan untuk membeli buku2 wirausaha, menfoto copy berbagai sistem bisnis, membangun jejaring, dan mendalami jenis bisnis yang kelak akan anda buka.

Hal tersebut penting anda miliki bila anda terpaksa harus memulai bisnis sendiri, dan atau bila anda tidak menemukan pengusaha yang berpengalaman sebagai partner bisnis.

Nasehat ini tentu tidak berlaku bagi mereka yang memang memiliki genetika pengusaha ( keluarga pengusaha ), karena sistem bisnis ini umumnya telah dimiliki oleh keluarga atau orangtuanya atau pengusaha pemula yg punya modal memadai, karena bisa mempekerjakan manajer bisnis yg berpengalaman.

Tantangan terbesar pengusaha pemula yang tidak memiliki genetika pengusaha dan modal pas-pasan adalah pada tahap administasi dan manajemen usaha khususnya yang berlaku standar bagi perbankan dan Kepemerintahan.

Umumnya pelaku usaha kecil kita senang bekerja one man show dan mengabaikan sistem bisnis dan terutama sistem administrasinya. inilah yang membuat Perbankan dan Pemerintah Kesulitan untuk meningkatkan kapasitas pelaku usaha ini.

Kembali kepada pertanyaan awal, apakah bekerja dulu atau langsung terjun menjadi pengusaha?
Jawabannya adalah tergantung pada kesiapan anda. Bila anda meyakini telah memiliki kecakapan membuat suatu produk yang bernilai tinggi, mengetahui pasar usaha anda, dan modal finansial ala kadarnya, dan tentu saja kesiapan mental yang paripurna, silahkan terjun langsung menjadi pengusaha- sambil terus belajar melengkapi kekurangan anda. Idealnya temukan fartner bisnis yang bisa membimbing anda.

Sebaliknya kalau anda belum memiliki hal tersebut, saran kami tak ada salahnya anda magang, atau bekerja terlebih dahulu. Boleh diperusahaan kecil dan boleh juga diperusahaan besar.

Saran terbaik kami, motivasi menjadi pengusaha tidak memadai hanya untuk motivasi kebebasan material, tetapi juga kebebasan waktu yang bisa membuat anda bebas mengembangkan potensi terbaik anda. Dengan kebebasan waktu yang anda miliki, anda bisa bebas bertemu dengan guru sukses yang anda kagumi, anda bebas berorganisasi dan bebas bertemu dengan banyak sahabat yang akan membuka pikiran anda dan memperluas pergaulan anda.

Apalagi bila anda juga cukup cerdas membangun tim manajemen yg bisa membantu anda menggantikan operasional bisnis anda bila anda sedang berhalangan, sehingga anda bebas belajar dan kuliah lagi atau menuliskan pengalaman anda. inilah yang kini kami alami setelah sekian lama fokus membangun sistem bisnis, membangun pelanggan sebagai basis fondasi kesuksesan bisnis kami.

Salam hangat dan salam sukses, penjelasan lebih lanjut tentang bagaimana membangun bisnis, apa saja kegagalan yang seringkali menjebak para pebisnis pemula serta tingkatan bisnis dapat anda baca dalam buku: yuk Jadi pengusaha, etos bisnis tiada merugi peta jalan menjadi pengusaha sukses. Buku ini suddah beredar ditoko buku kesayangan anda, diterbitkan oleh Penerbit Khalifa Grup Alkausar dengan distributor Agromedia. Bagi anda yang ingin membangun karis sebagai Karyawan Professional anda dapat membaca buku kami:rahasia sukses para juara ( roadmap to success and Happinest )

Komentar dan pertanyaan anda dapat disampaikan melalui forum ini atau melalui email:dhismail_msi@yahoo.com
Salam hangat dan salam sukses selalu. Jakarta, 18 Juli 2010

Baca selengkapnya......

Senin, 07 Juni 2010

Pesona Rachel Corrie dan Impian Sukses Amerika

Nama Wanita Cantik itu Rachel, Mahasiswi AS. Usianya saat itu 23 Tahun. Namun impian Amerika telah melekat dalam alam bawah sadarnya, bahwa sekali hidup harus sukses dan cara terbaik meraih impian sukses adalah sleep & dream dengan impian tersebut. Meski bukan muslim, hatinya tersentuh penderitaan warga Palestina. Gadis itu pun cuti dari kuliah & bergabung dalam solidaritas kemanusiaan yang dilakukan Gerakan Solidaritas Internasional (ISM) yang kemudian menerbangkannya ke Gaza.

Namun, apa lacur, ketika aktivis hebat ini mencoba menghalau bulldozer Israel yang mencoba meratakan pemukiman Palestina di Gaza-dengan cara tidur di Jalanan yang panas ( tameng hidup), Badannya remuk dilindas buldozer Israel. Wanita cantik ini meninggal sebelum sempat menamatkan studinya, dan menggapai level tertinggi cita-cita nya. Tapi itulah mistery kehidupan . Meski ilmu tidak sehebat prof dikampusnya, takdirnya mengatakan bahwa ia telah menjadi legenda perlawanan terhadap kezaliman Israel. Namanya berkibar-kibar justru setelah beberapa tahun lalu ia meninggalkan kita. Pemimpin Palestina Yasser Arafat saat itu merasa perlu untuk berterima kasih secara khusus dengan Craig, ayah Corrie dan mengatakan, "Dia putri Anda, tapi sekarang, dia juga putri Palestina." Rachel Corrie kemudian diabadikan menjadi nama jalan di Ramallah, Tepi Barat. Bahkan menurut Catatan Tempo, sejak kematiannya, Rachel Corrie menginspirasi lebih dari 30 lagu dari berbagai musisi, seperti Patti Smith dan Ten Foot Pole. Jurnal dan surat elektroniknya dijadikan lakon drama dengan judul "My Name is Rachel Corrie". Lakon ini telah diterbitkan dalam bentuk buku dan dimainkan di sepuluh negara, termasuk Israel. Rekan-rekan nya pun di Gerakan Pembebasan Internasional mengabadikan nama Rachel Corrie di kapal milik mereka. Kapal berbobot 500 ton dan panjang 625 meter dibeli Gerakan Pembebasan Gaza seharga 70 ribu Euro atau sekitar Rp 840 juta dari sebuah lelang di Dundalk, Irlandia, 30 Maret lalu. Kapal inilah yang berupaya menembus keangkuhan Tentara Bintang Daud. Gunawan Muhammad sang kolomnis ternama di Indonesia pun terispirasi untuk mengabadikan icon perjuangan anak muda tersebut. Dalam sebuah catatan pinggirnya Gunawan menulis, “Rachel Corrie yang ada di surga, selalu kembalilah namamu. Semoga selalu kembali ingatan kepada seseorang yang bersedia mati untuk orang lain dalam umur 23 tahun, seseorang yang memang kemudian terbunuh, seakan-akan siap diabaikan di satu Ahad yang telah terbiasa dengan kematian.” Luar biasa. Menulis kisah ini untuk pembaca dan dikaitkan dengan American dream untuk menegaskan, bahwa seringkali kita berpikir bahwa hidup ideal itu adalah apabila kita berusia panjang. Itu betul, namun jauh lebih penting dari situ adalah pertanyaan, “ kontribusi apa yang bisa kita berikan kepada kehidupan ini dengan akumulasi usia tersebut?”. Bukankah umur terbaik adalah umur yang paling produktif dengan indicator kontribusi kita terhadap orang lain, bangsa dan dunia. Ini pula hemat penulis yang menjadikan Amerika sebagai Negara superpower tak tertekalahkan hingga detik ini. Bangsa yang kini dipimpin Alumni SD Menteng itu, kini, memiliki ribuan bahkan puluhan juta Rachel Corrie - yang sangat mencintai profesinya dan bahkan bersedia membayar dengan sangat mahal untuk kesempurnaan dan kesuksesan mewujudkan impiannya Bila menjadi aktivis, ia pilih aktivis kelas dunia, bila jadi pengusaha, ia piliha jadi pengusaha terbaik dan berkelas dunia dan demikian seterusnya. Singkat warga Amerika memiliki citra rasa diri kelas dunia. Mereka bukan tipe katak dalam terpurung yang lebih suka berdinamika dilingkungan sendiri dan itupula yang mengatarkan mereka jadi jawara dunia. ( DH.Ismail, M.Si, Penulis Buku Rahasia Sukses Para Juara ).

Baca selengkapnya......

Kamis, 20 Mei 2010

Membakar Dunia Batin Manusia

Buku karya DH Ismail ini adalah usaha menghidupkan dunia-dalam kita yang mungkin redup di balik timbunan kenyataan yang kita alami. Ia mencoba menunjukkan potensi dan daya kreatif manusia dalam situasi sesulit apa pun, menunjukkan juga bahwa memecahkan masalah ditentukan terutama oleh dunia-dalam dan daya kreatif manusia itu sendiri. Ini adalah jalan keluar yang coba ditawarkan untuk menghadapi situasi yang lebih banyak memadamkan dunia-dalam manusia, yaitu situasi yang mematikan kepercayaan pada hidup.

Sekali berarti
Sudah itu mati
Aku mau hidup seribu tahun lagi
(Chairil Anwar)


Yang diperlukan Indonesia hari ini adalah kepercayaan pada hidup. Yaitu bahwa hidup sangatlah bermakna, berharga, dan karena itu selalu ada harapan di sana. Kepercayaan pada hidup dengan demikian adalah semangat untuk mengisi hidup itu sendiri dengan kesadaran penuh akan potensi diri pribadi di tengah makin tipisnya harapan akibat beban hidup yang kian berat. Kepercayaan ini kiranya perlu terus-menerus dibangkitkan bahkan dikobarkan, ketika situasi kita kini lebih banyak menguburkan harapan demi harapan hingga ke titik nadir yang amat menakutkan. Rasa putus asa pada sebagian masyarakat kita, yang antara lain ditandai dengan kasus bunuh diri akibat tekanan kemiskinan yang tak tertanggungkan, kiranya sudah sampai pada taraf yang amat mencemaskan. Mereka merasa, dalam lorong gelap yang seakan tanpa ujung, hidup hanyalah kesia-siaan. Dan, karena tak ada setitik pun cahaya di ujung jauh lorong gelap itu, maka mengakhiri hidup diambil sebagai pilihan pahit untuk memecahkan jalan buntu hidup yang terasa sia-sia.

Langkah ekstrem yang merefleksikan runtuhnya kepercayaan pada hidup ini patut kita renungkan dengan sungguh-sungguh hari ini. Sebab, berbagai langkah politik untuk meringankan hidup guna membangkitkan kepercayaan pada harapan di hari esok belum memberikan hasil yang bisa membatalkan anggapan bahwa hidup sia-sia belaka. Alih-alih, yang justru membentang di depan mata adalah kenyataan yang menyesakkan, yaitu tiadanya peluang dan kesempatan yang memungkinkan semua orang mengaktualisasikan diri secara memadai. Ketidaktersediaan peluang dan kesempatan ini, yang menunjukkan macetnya demokrasi sosial dan ekonomi kita, adalah faktor utama yang meruntuhkan kepercayaan pada hidup. Di samping itu, di banyak televisi kita, dengan mata telanjang kita menyaksikan kuis-kuis berhadiah yang dengan mudah memberikan hadiah ini-itu tanpa meminta keringat atau keahlian apa pun. Fenomena itu diam-diam menanamkan pandangan bahwa hidup memang tak memerlukan harapan, tak pula memerlukan etos dan kerja keras. Hidup hanya dan hanya keberuntungan belaka.

Lebih dari itu, di berbagai media pula hampir setiap hari kita menyaksikan para elit sosial kita melakukan berbagai penyimpangan moral dan sosial: main suap, sogok, korupsi, perempuan, dan lain-lain, dari bentuknya yang halus hingga yang kasar —dengan kadar penyinmpangan yang sangat mencengangkan. Semua itu pastilah memupuk frustasi sosial akan hidup-bersama sebagai sebuah bangsa, bahkan sebagai sesama manusia. Beban hidup kaum kebanyakan yang begitu berat, bahkan kian berat, ternyata tak mendapatkan solidaritas dari kaum elit yang secara sosial, politik, dan ekonomi sesungguhnya disokong oleh kaum kebanyakan itu. Dengan penyimpangan kaum elit yang dewasa ini berlangsung massif dan struktural di mana-mana, kaum kebanyakan bahkan tak mendapatkan sekadar sensitivitas dari kaum elit itu sendiri. Jika kaum kebanyakan yang menjadi penyangga kaum elit tak mendapatkan sensitivitas dan solidaritas dari kaum elit, adalah wajar kalau kaum kebanyakan merasa disia-siakan atau bahkan merasa dikhianati.

Sensitivitas dan solidaritas kaum elit sesungguhnya merupakan salah satu benteng kaum kebanyakan dalam mempertahankan diri dari ancaman kehancuran harapan dan kepercayaan mereka pada hidup. Ketika benteng itu sudah tak ada lagi, mereka akan merasa benar-benar hidup di tengah reruntuhan dan kehancuran, terutama secara sosial.

Yang tak kalah merisaukan —atau bahkan lebih merisaukan lagi— adalah kenyataan bahwa keruntuhan harapan dan kepercayaan pada hidup ini menjangkiti pula “kelas menengah” kita, kelas terpelajar, atau tepatnya mereka yang relatif beruntung secara sosial. Mereka memiliki modal yang relatif baik —pendidikan, sosial, dan budaya— namun mereka menemukan diri mereka sebagai tidak bisa mengaktualisasikan diri secara maksimal. Bukan karena hambatan di dalam diri mereka sendiri, melainkan karena kenyataan objektif di luar diri mereka yang bersumber dari kegagalan politik kita dalam membangun infrastruktur sosial dan ekonomi.
Dalam situasi seperti itu, dengan kepercayaan pada hidup yang masih tersisa, individu dituntut untuk kembali pada individu itu sendiri. Individu tak cukup lagi mempercayakan dirinya pada komitmen politik untuk hidup-bersama sebagai sebuah bangsa. Individu harus mempertahankan dan menyelamatkan dirinya sendiri dari kebangkrutan hidup. Dengan kata lain, dia harus menyelamatkan sendiri kepercayaannya pada hidup, tidak dengan mengharapkan tersedianya kenyataan objektif yang memungkinkan mereka mengaktualisasikan diri secara maksimal, melainkan dengan menggali sisi-sisi terdalam diri mereka sebagai manusia. Dia tidak bisa lagi melulu melihat ke dunia-luar dirinya, melainkan harus melihat ke dunia-dalam dirinya sendiri, dunia mana menyimpan energi luar biasa yang bisa memancarkan kekuatan dahsyat untuk menciptakan sendiri dunia objektif bagi aktualisasi dirinya secara maksimal.

Bagaimanapun, sukses hidup seseorang —apa pun definisi kita tentang sukses— pertama-tama ditentukan oleh dunia-dalam dirinya sendiri: motivasi, keyakinan, semangat, etos, roh, spirit, optimisme, dan sejenisnya. Apa pun dasarnya, sekular atau relijius, dunia-dalam pastilah merupakan modal utama seseorang dalam mengembangkan diri untuk meraih sukses hidup. Masalahnya adalah bahwa manusia bagaimanapun selalu berhadapan dengan dunia-luar dirinya, yang sayangnya tidak selalu kondusif bagi dunia-dalamnya. Dalam konteks itulah dunia-luar kerapkali menciutkan energi dunia-dalam seseorang, yang di ujung titik ekstrimnya bisa melahirkan rasa kecewa dan putus asa. Dalam arti kata lain, energi luar biasa yang terkandung di dalam dirinya tersembunyi di balik timbunan pengalaman yang tidak menguntungkan.
Maka menghidupkan terus-menerus api dunia-dalam ini tentulah amat penting dan mendesak hari ini, apalagi dalam situasi ketika dunia-luar justru cenderung memadamkannya. Inilah api energi yang tetap hidup dalam diri seseorang, namun seringkali tidak disadarinya. Api inilah sesungguhnya yang akan membakar semangat untuk mengatasi dan memecahkan sendiri setiap masalah yang dihadapi. Api itu adalah energi kreatif dan produktif, yang bisa mengukur kemampuannya sendiri, dan karena itu akan mencari energi-energi lain untuk bersinergi memecahkan masalah yang tak mungkin ditanggung dan dipecahkan sendiri.

Buku karya DH Ismail ini adalah usaha menghidupkan dunia-dalam kita yang mungkin redup di balik timbunan kenyataan yang kita alami. Ia mencoba menunjukkan potensi dan daya kreatif manusia dalam situasi sesulit apa pun, menunjukkan juga bahwa memecahkan masalah ditentukan terutama oleh dunia-dalam dan daya kreatif manusia itu sendiri. Ini adalah jalan keluar yang coba ditawarkan untuk menghadapi situasi yang lebih banyak memadamkan dunia-dalam manusia, yaitu situasi yang mematikan kepercayaan pada hidup. Dengan demikian, dilihat dari konteks Indonesia hari ini, dimana hidup terasa kian berat dan kesulitan terasa tak mungkin dipecahkan, buku ini tentulah amat relevan guna memastikan kembali pentingnya kepercayaan pada hidup. Yaitu keyakinan untuk memecahkan sendiri masalah yang kita hadapi dengan memaksimalkan daya kreatif dan produktif yang kita miliki.

Di sini kita berjumpa dengan pembalikan paradigma: dari pandangan bahwa sukses ditentukan oleh situasi objektif di luar diri manusia ke pandangan bahwa sukses ditentukan justru oleh dunia-dalam manusia itu sendiri. Seseorang mencapai sukses bukan terutama karena struktur sosial dan budaya lingkungannya, melainkan pertama-tama karena struktur batin dan kerohaniannya yang menyala-nyala. Paradigma pertama hanya akan menciptakan ketergantungan; paradigma kedua niscaya akan membangun kemandirian.

Untuk membakar dunia batin kita, DH Ismail menggali berbagai sumber: pendapat para ahli motivasi, agama (Islam), pengalaman hidup para tokoh (agama, politisi, pengusaha, dll.), bahkan pengalamannya sendiri. Buku ini kiranya akan memberikan kita inspirasi dan spirit, bahwa —dalam kata-kata penyair Chairil Anwar yang terkenal— sekali hidup/ sudah itu mati, dan aku mau hidup seribu tahun lagi. Yakni, karena kita hanya hidup sekali, maka hidup kita harus berarti. Hanya setelah hidup kita berarti, kita boleh mati. Dengan hidup yang berarti itulah kita akan hidup abadi.

Demikianlah, buku ini mencoba menghidupkan kembali kepercayaan kita pada hidup. Mudah-mudahan kita senantiasa mendapatkan inspirasi untuk terus-menerus mengukuhkan kepercayaan kita pada hidup atas dasar daya kreatif dan produktif kita sendiri sebagai karunia Tuhan yang tak ternilai. Salam.***
Jamal D. Rahman, penyair, pemimpin redaksi majalah sastra Horison, komisaris
Visi Aulia Jaya.





Baca selengkapnya......

Selasa, 18 Mei 2010

AWAS VIRUS SUKSES!!


Kendalikan Pikiran dan Tetapkan Tujuan


Dalam kehidupan serba materialistik saat ini, sering kali kita terjebak dan bahkan salah mengukur kualitas kesuksesan seseorang berdasarkan pekerjaaan hari ini. Setiap berkenalan dengan orang baru, pertanyaan yang pertama kali diajukan adalah, "Anda dinas di mana?" Atau, "Apa pekerjaan Anda saat ini?" "Apakah pekerjaan tersebut mampu memuaskan hasrat ekonomi Anda?" dan seterusnya. Singkatnya, manusia modern mulai terjebak pada penuhanan materi dan menjadikan materi sebagai alat ukur kadar kemanusiaan seseorang. Manusia memang mahluk kerja, tetapi menjadikan pekerjaan seseorang sebagai satu-satunya indikator kesuksesan seseorang juga tidaklah bijaksana. Anda ragu dengan kesimpulan tersebut, bacalah kisah berikut ini:

Suatu hari, oleh karena sebuah kendala teknis yang benar-benar force major (darurat), kami pengelola sebuah media terpaksa, mengutus seseorang yang sehari-hari bertugas sebagai office boy di kantor kami untuk menggantikan salah satu wartawan kami yang terlambat masuk kantor karena sesuatu hal, padahal dia harus melakukan liputan kegiatan seorang Menteri. Kepada Office boy tersebut, kami memberikan tugas yang jelas serta peralatan kerja yang lengkap, yakni : sebuah kamera, kartu press serta undangan resmi dari humas departemen tersebut. Agar 'petugas' kami tersebut betul-betul mengetahui tugas barunya, kami bekali dia dengan catatan yang berisi rincian tugasnya, yakni: mendapatkan foto close up sang Menteri serta mengambil press release yang biasanya telah disediakan oleh pejabat humas departemen tersebut. Konsekwensinya, jika kedua tugas tersebut tidak berhasil didapatkannya, maka ia tidak perlu menampakkan batang hidung di kantor, alias jangan kembali, tegas redaktur pelaksana.

Dus, sang 'reporter' dadakan tersebut akhirnya berangkat menuju ke lokasi kegiatan dalam keadaan setengah ragu alias gemetaran. Ia pun meluncur dengan mengendarai motor ke wilayah pinggiran Jakarta, tempat di mana acara tersebut dilaksanakan. Apa yang terjadi pembaca yang budiman?
Sore harinya, tatkala tim redaksi sedang berkumpul untuk mengevaluasi liputan harian, sang 'reporter' dadakan tersebut pulang. Di luar dugaan kami semua, ia menyerahkan kamera serta press release, ia juga berhasil membawa dua tas berisi manual acara juga kaus dan jaket. Tak hanya itu, sang 'reporter' tersebut juga berhasil merekam pidato lengkap sang menteri serta sambutan beberapa tokoh dan dilengkapi dengan wawancara sang menteri yang ia lakukan bersama rombongan wartawan media lain selepas acara tersebut. Singkatnya, bahan baku tulisan yang diperolehnya dalam liputan tersebut benar-benar sempurna. Demikian juga dengan foto hasil jepretannya.

Melihat kinerja nan hebat tersebut, kami tak bisa menyembunyikan kekaguman kami. Bahkan teman-teman merasa bersalah karena terlambat mengenali potensi tersembunyi sang office boy tersebut. Penulis juga menyaksikan bagaimana wajah sumringahnya memancarkan aroma kebahagiaan saat kami berulang-ulang memujinya dengan tulus. Rasa percaya diri yang lama tertimbun oleh stigmatisasi office boy, langsung tumbuh mekar seketika. Ia seperti dilahirkan kembali.

Sejak kejadian tersebut, kami amati, hari-harinya menunjukkan prestasi demi prestasi. Semangat bekerjanya naik 180 derajat dan kualitas hidupnya pun menanjak drastis. Profesinya memang masih tetap sebagai office boy, tetapi ia dan kami, kini berbeda melihat dan memperlakukannya. Kami menyadari bahwa selama ini, ia hanya seorang yang sedang sial nasibnya hingga menjadi office boy, meski ia memiliki potensi dahsyat bagai mutiara terpendam lumpur.

Seiring perjalanan waktu, kini ia memiliki kebiasaan baru : Bila sebelumnya ia lebih banyak duduk dan bergaul dengan sesama office boy, kini ia mulai menjalin relasi dengan awak redaksi. Sekarang ia telah menetapkan tujuan baru dalam hidupnya yakni ingin menjadi fotrografer. Dengan tujuan barunya tersebut, ia hadir ke kantor lebih cepat dan pulang lebih malam hanya untuk memastikan bisa berbincang-bincang dengan tim redaksi. Sejak saat itu ia selalu merayu redaksi agar diberi kesempatan emas kembali untuk melakukan kegiatan serupa. Singkatnya, orang tua paruh baya yang telah puluhan tahun nrimo menjadi office boy tersebut, kini memiliki gairah hidup (passion) yang baru alias terkena virus ”candu sukses”. Kami juga mengetahui beberapa saat kemudian ia telah mengikuti kursus fotografi demi memekarkan impiannya. Ia benar-benar telah kecanduan atas prestasi.

Tiga bulan setelah kejadian tersebut, kami tak punya alasan lagi untuk menolak permintaannya. Kamipun menaikkan jabatannya dari OB menjadi fotografer. Dan seiring dengan tugas barunya tersebut, orang tua paruh baya tersebut telah mendapatkan impiannya sebagai fotografer. Dengan cepat ia belajar dan menyesuaikan diri dengan pekerjaan idamannya, sehingga ialah yang paling siap menerima segala jenis tugas yang paling menantang, yang justru seringkali membuahkan kelezatan. Ketika wartawan senior lainnya mulai bosan dengan pekerjaannya, orang ini justru sedang berpesta ria dengan profesi barunya. Tak heran, ketika seorang seniornya harus dipecat dengan tidak terhormat, sang tokoh ini malah sedang sibuk menorehkan sejumlah prestasi baru. Ketika tulisan ini dipublikasikan, wartawan tersebut telah meliput beberapa kegiatan menteri bahkan sudah sering bersantap makan dengan beberapa tokoh–tokoh penting di republik ini. Wow, luar biasa bukan.

Fakta di atas membuka mata batin penulis; betapa jabatan atau pekerjaan seseorang tak senantiasa paralel dengan kualitas hakikinya. Di dalam sebuah sistem bursa sukses yang belum menerapkan asas merytokrasi dengan baik seperti di Indonesia, dan di mana ijazah pendidikan tinggi tidak selalu paralel dengan kualitas output-nya, terasa amat berlebihan jika menvonis kualitas hakiki seseorang dari jenis profesi yang disandangnya.

Mengendalikan Pikiran
True story di atas mengingatkan penulis akan kisah yang dituturkan oleh Ekchart Tolle, dalam 'The Power of Now' berikut ini.
"Seorang pengemis telah duduk di sisi jalan selama lebih dari 30 tahun. Suatu hari, seorang asing lewat."Punya uang receh, Pak?" gumam si pengemis, secara otomatis menjulurkan topi bassballnya yang sudah lusuh.
"Saya tidak punya apa-apa untuk Anda, "kata si orang asing." Kemudian, ia bertanya: "Apa yang Anda duduki itu?”. "Bukan apa-apa," jawab si pengemis. "Hanya sebuah kotak tua. Saya telah duduk di atas kotak ini sejak dulu. "Pernah melihat isi kotak itu?" tanya si orang asing. "Tidak," kata si pengemis itu. "Apa guna nya? Tidak ada apa-apa di dalamnya."
"Cobalah lihat,” desak si orang asing tersebut. Si pengemis mencoba membuka tutup kotak itu. Dengan keterkejutan, rasa tidak percaya, dan kegembiraan, si pengemis melihat kotak itu di penuhi emas.”

Mengomentari cerita di atas, Mark Viktor Hansen dan Robert G. Allen dalam bukunya 'Cracking the Millionaire CODE: Kunci Untuk Membuka Kekayaan Yang Tercerahkan', mengatakan, bahwa dalam setiap diri kita terdapat "kotak emas" yang masing-masing kita “duduki" dan bahkan lebih banyak daripada hal itu, namun sangat banyak di antara manusia yang tak menyadarinya.

Para ahli personal power dari berbagai sekolah kepribadian internasional malah menyebut potensi manusia yang sudah dimanfaatkan rata-rata baru 3 persen. Berarti ada 97 persen yang disia-siakan. Naif sekali bukan, kalau belum apa-apa kita sudah menganggap diri kita impoten?

Pandangan senada disampaikan Newman -penulis buku '10 Exciting Keys to Success'- "Kecenderungan pesimistis terjadi pada seseorang karena orang tersebut masih dikendalikan pikiran, bukan mengendalikan pikiran. Jadi kendali diri tak berada di tangannya, tetapi di tangan-tangan faktor eksternal yang dengan aktif mempengaruhi otak passifnya. Akibatnya, mereka tak pernah punya kemauan untuk menggali potensi diri, dan cenderung mempercayai saja apa yang dinyatakan otaknya. Orang sukses tak dikendalikan pikiran tetapi mengendalikan pikiran," tegas Newman.

Bila Anda berpikir bahwa Anda tidak berguna dan tidak sukses, maka Anda tidak akan pernah berguna dan menjadi sukses, alias pasrah menghadapi kehidupan seperti kisah si miskin di atas. Sebaliknya, jika Anda berpikir bahwa hidup Anda punya makna dan tugas khsusus yang mampu Anda darma baktikan bagi sesama, maka akan tumbuh sikap dan tindakan serta tekad yang membuat Anda benar-benar berguna dan menjadi sukses sebagaimana si fotrografer baru yang mantan office boy di atas. Jadi, kata kuncinya adalah bagaimana mengendalikan pikiran. Menurut Newman, cara mengendalikan pikiran di antaranya:
1. Membaca. Membaca adalah salah satu cara efektif mengendalikan pikiran. Dengan membaca, pikiran akan terlatih dan berkembang. Dengan membaca, Anda mendapat perbandingan informasi, kritis, inovatif dan kreatif atau meminjam istilah Thomas L. Harison dapat mengubah cara berpikir.
2. Berpikir. Selain membaca, orang bisa mengendalikan pikiran dengan cara berpikir besar dan tidak gampang patah semangat bila gagasan yang bersumber dari pemikirannya dilecehkan. Cara ini akan menumbuhkan semangat juang dan semangat tempur. Musuh terbesar manusia adalah ketakutan, kekhawatiran dan keragu-raguan.
3. Diskusi. Selain pendapat Newman di atas, hemat penulis, Berdiskusi atau berdebat dengan orang lain bisa meningkatkan kreativitas berpikir. Berdebat atau berdiskusi adalah salah satu tradisi keluarga sukses di negara maju dalam membentuk cara berpikir anggota keluarganya.
4. Satu langkah lainnya dalam mengendalikan pikiran adalah dengan menginstal ulang pikiran kita terutama pikiran alam bawah sadar kita. Kenapa? Karena umumnya manusia bertindak berdasarkan alam pikiran bawah sadarnya terutama pada saat situasi genting dan emosional.
5. Bergaul dengan orang–orang yang lebih sukses dan lebih berpengalaman.
6. Dan menetapkan tujuan baru. Khusus untuk poin terakhir ini akan kita kaji lebih mendalam dalam bahasan berikutnya ( Segera terbit dalam buku berjudul: Ayat-ayat sukses ).

Baca selengkapnya......

Komentar Tokoh Tentang Buku 'Rahasia Sukses Para Juara'


"Buku Rahasia Sukses Para Juara Ditulis berdasarkan studi mendalam tentang sejumlah tokoh terkemuka di berbagai bidang profesi dan dengan merujuk berbagai literatur buku-buku biografi dan ajaran para maestro sukses dan ahli pemberdayaan-. Berbagai serakan khazanah mutiara sukses tersebut lantas dijahit dengan sangat apik oleh penulisnya yang memiliki pengalaman sebagai aktivis, wartawan, dan praktisi bisnis, sehingga menjadi konsep utuh dan aplikatif serta mudah diterapkan oleh pembaca dalam mengoptimalkan kualitas kesuksesan hidupnya. Buku ini cocok bagi Anda yang belum memiliki tiket dalam memasuki area pusat keunggulan suskes kehidupan dan memimpikan hidup sukses penuh bahagia tanpa penyesalan...
Buku ini adalah semacam roadmap untuk merebut hak ulayat dan jati diri sejati setiap insan, termasuk Anda juga. Anjuran saya, bacalah dengan bersemangat, kepakkanlah sayap percaya Anda, dan jadilah seorang juara pada bidang pilihan Anda. Sampai jumpa pada upacara pengalungan medali juara, suatu saat nanti!"
(Jansen H. Sinamo: Guru Etos Indonesia dan Penulis Buku Best Seller '8 Ethos Kerja Professional')

Baca selengkapnya......