DH. Ismail Sitanggang, M.Si, Direktur Visi Aulia Jaya Group, perusahaan yg bergerak di bidang Penerbitan, Percetakan, Event Organizer & Konsultan bisnis. Mantan Ketua Bid. Promosi Kader HMI cabang Ciputat, Ketua Dewan Predium Formasi, Pengurus Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, DPP BISMA dan pengurus KAHMI, kini dipercaya menjadi Wakil Pemimpin Perusahaan Majalah CSR Review, pengurus CFCD DKI Jakarta, BKKKS Jakarta. Selain aktif mengurusi bisnis dan beragam organisasi yang diikutinya, ia juga mulai menekuni karir di bidang training motivasi dan tulis menulis. Suami dari Tety Muhithoh-Mahasiswi Pasca Sarjana UI- ini telah menulis 7 buku & puluhan buku lainnya yang ditulis bersama tim Visi Aulia Jaya dan rekan-rekan bisnisnya. Menurut Pengagum KH. Imam Zarkasyi, Achmad Bakrie, Om William ini, Indonesia akan sejahtera bila banyak pengusahanya. Untuk obsesi tersebut kini ayah tiga putra ini bersama timnya sedang bekerja keras membangun sekolah bisnis bagi tunas wirausaha muda dan UMKM. Yuk bersinergi membangun Indonesia Jaya. Kalau bukan kita siapa lagi...



Selasa, 18 Mei 2010

AWAS VIRUS SUKSES!!


Kendalikan Pikiran dan Tetapkan Tujuan


Dalam kehidupan serba materialistik saat ini, sering kali kita terjebak dan bahkan salah mengukur kualitas kesuksesan seseorang berdasarkan pekerjaaan hari ini. Setiap berkenalan dengan orang baru, pertanyaan yang pertama kali diajukan adalah, "Anda dinas di mana?" Atau, "Apa pekerjaan Anda saat ini?" "Apakah pekerjaan tersebut mampu memuaskan hasrat ekonomi Anda?" dan seterusnya. Singkatnya, manusia modern mulai terjebak pada penuhanan materi dan menjadikan materi sebagai alat ukur kadar kemanusiaan seseorang. Manusia memang mahluk kerja, tetapi menjadikan pekerjaan seseorang sebagai satu-satunya indikator kesuksesan seseorang juga tidaklah bijaksana. Anda ragu dengan kesimpulan tersebut, bacalah kisah berikut ini:

Suatu hari, oleh karena sebuah kendala teknis yang benar-benar force major (darurat), kami pengelola sebuah media terpaksa, mengutus seseorang yang sehari-hari bertugas sebagai office boy di kantor kami untuk menggantikan salah satu wartawan kami yang terlambat masuk kantor karena sesuatu hal, padahal dia harus melakukan liputan kegiatan seorang Menteri. Kepada Office boy tersebut, kami memberikan tugas yang jelas serta peralatan kerja yang lengkap, yakni : sebuah kamera, kartu press serta undangan resmi dari humas departemen tersebut. Agar 'petugas' kami tersebut betul-betul mengetahui tugas barunya, kami bekali dia dengan catatan yang berisi rincian tugasnya, yakni: mendapatkan foto close up sang Menteri serta mengambil press release yang biasanya telah disediakan oleh pejabat humas departemen tersebut. Konsekwensinya, jika kedua tugas tersebut tidak berhasil didapatkannya, maka ia tidak perlu menampakkan batang hidung di kantor, alias jangan kembali, tegas redaktur pelaksana.

Dus, sang 'reporter' dadakan tersebut akhirnya berangkat menuju ke lokasi kegiatan dalam keadaan setengah ragu alias gemetaran. Ia pun meluncur dengan mengendarai motor ke wilayah pinggiran Jakarta, tempat di mana acara tersebut dilaksanakan. Apa yang terjadi pembaca yang budiman?
Sore harinya, tatkala tim redaksi sedang berkumpul untuk mengevaluasi liputan harian, sang 'reporter' dadakan tersebut pulang. Di luar dugaan kami semua, ia menyerahkan kamera serta press release, ia juga berhasil membawa dua tas berisi manual acara juga kaus dan jaket. Tak hanya itu, sang 'reporter' tersebut juga berhasil merekam pidato lengkap sang menteri serta sambutan beberapa tokoh dan dilengkapi dengan wawancara sang menteri yang ia lakukan bersama rombongan wartawan media lain selepas acara tersebut. Singkatnya, bahan baku tulisan yang diperolehnya dalam liputan tersebut benar-benar sempurna. Demikian juga dengan foto hasil jepretannya.

Melihat kinerja nan hebat tersebut, kami tak bisa menyembunyikan kekaguman kami. Bahkan teman-teman merasa bersalah karena terlambat mengenali potensi tersembunyi sang office boy tersebut. Penulis juga menyaksikan bagaimana wajah sumringahnya memancarkan aroma kebahagiaan saat kami berulang-ulang memujinya dengan tulus. Rasa percaya diri yang lama tertimbun oleh stigmatisasi office boy, langsung tumbuh mekar seketika. Ia seperti dilahirkan kembali.

Sejak kejadian tersebut, kami amati, hari-harinya menunjukkan prestasi demi prestasi. Semangat bekerjanya naik 180 derajat dan kualitas hidupnya pun menanjak drastis. Profesinya memang masih tetap sebagai office boy, tetapi ia dan kami, kini berbeda melihat dan memperlakukannya. Kami menyadari bahwa selama ini, ia hanya seorang yang sedang sial nasibnya hingga menjadi office boy, meski ia memiliki potensi dahsyat bagai mutiara terpendam lumpur.

Seiring perjalanan waktu, kini ia memiliki kebiasaan baru : Bila sebelumnya ia lebih banyak duduk dan bergaul dengan sesama office boy, kini ia mulai menjalin relasi dengan awak redaksi. Sekarang ia telah menetapkan tujuan baru dalam hidupnya yakni ingin menjadi fotrografer. Dengan tujuan barunya tersebut, ia hadir ke kantor lebih cepat dan pulang lebih malam hanya untuk memastikan bisa berbincang-bincang dengan tim redaksi. Sejak saat itu ia selalu merayu redaksi agar diberi kesempatan emas kembali untuk melakukan kegiatan serupa. Singkatnya, orang tua paruh baya yang telah puluhan tahun nrimo menjadi office boy tersebut, kini memiliki gairah hidup (passion) yang baru alias terkena virus ”candu sukses”. Kami juga mengetahui beberapa saat kemudian ia telah mengikuti kursus fotografi demi memekarkan impiannya. Ia benar-benar telah kecanduan atas prestasi.

Tiga bulan setelah kejadian tersebut, kami tak punya alasan lagi untuk menolak permintaannya. Kamipun menaikkan jabatannya dari OB menjadi fotografer. Dan seiring dengan tugas barunya tersebut, orang tua paruh baya tersebut telah mendapatkan impiannya sebagai fotografer. Dengan cepat ia belajar dan menyesuaikan diri dengan pekerjaan idamannya, sehingga ialah yang paling siap menerima segala jenis tugas yang paling menantang, yang justru seringkali membuahkan kelezatan. Ketika wartawan senior lainnya mulai bosan dengan pekerjaannya, orang ini justru sedang berpesta ria dengan profesi barunya. Tak heran, ketika seorang seniornya harus dipecat dengan tidak terhormat, sang tokoh ini malah sedang sibuk menorehkan sejumlah prestasi baru. Ketika tulisan ini dipublikasikan, wartawan tersebut telah meliput beberapa kegiatan menteri bahkan sudah sering bersantap makan dengan beberapa tokoh–tokoh penting di republik ini. Wow, luar biasa bukan.

Fakta di atas membuka mata batin penulis; betapa jabatan atau pekerjaan seseorang tak senantiasa paralel dengan kualitas hakikinya. Di dalam sebuah sistem bursa sukses yang belum menerapkan asas merytokrasi dengan baik seperti di Indonesia, dan di mana ijazah pendidikan tinggi tidak selalu paralel dengan kualitas output-nya, terasa amat berlebihan jika menvonis kualitas hakiki seseorang dari jenis profesi yang disandangnya.

Mengendalikan Pikiran
True story di atas mengingatkan penulis akan kisah yang dituturkan oleh Ekchart Tolle, dalam 'The Power of Now' berikut ini.
"Seorang pengemis telah duduk di sisi jalan selama lebih dari 30 tahun. Suatu hari, seorang asing lewat."Punya uang receh, Pak?" gumam si pengemis, secara otomatis menjulurkan topi bassballnya yang sudah lusuh.
"Saya tidak punya apa-apa untuk Anda, "kata si orang asing." Kemudian, ia bertanya: "Apa yang Anda duduki itu?”. "Bukan apa-apa," jawab si pengemis. "Hanya sebuah kotak tua. Saya telah duduk di atas kotak ini sejak dulu. "Pernah melihat isi kotak itu?" tanya si orang asing. "Tidak," kata si pengemis itu. "Apa guna nya? Tidak ada apa-apa di dalamnya."
"Cobalah lihat,” desak si orang asing tersebut. Si pengemis mencoba membuka tutup kotak itu. Dengan keterkejutan, rasa tidak percaya, dan kegembiraan, si pengemis melihat kotak itu di penuhi emas.”

Mengomentari cerita di atas, Mark Viktor Hansen dan Robert G. Allen dalam bukunya 'Cracking the Millionaire CODE: Kunci Untuk Membuka Kekayaan Yang Tercerahkan', mengatakan, bahwa dalam setiap diri kita terdapat "kotak emas" yang masing-masing kita “duduki" dan bahkan lebih banyak daripada hal itu, namun sangat banyak di antara manusia yang tak menyadarinya.

Para ahli personal power dari berbagai sekolah kepribadian internasional malah menyebut potensi manusia yang sudah dimanfaatkan rata-rata baru 3 persen. Berarti ada 97 persen yang disia-siakan. Naif sekali bukan, kalau belum apa-apa kita sudah menganggap diri kita impoten?

Pandangan senada disampaikan Newman -penulis buku '10 Exciting Keys to Success'- "Kecenderungan pesimistis terjadi pada seseorang karena orang tersebut masih dikendalikan pikiran, bukan mengendalikan pikiran. Jadi kendali diri tak berada di tangannya, tetapi di tangan-tangan faktor eksternal yang dengan aktif mempengaruhi otak passifnya. Akibatnya, mereka tak pernah punya kemauan untuk menggali potensi diri, dan cenderung mempercayai saja apa yang dinyatakan otaknya. Orang sukses tak dikendalikan pikiran tetapi mengendalikan pikiran," tegas Newman.

Bila Anda berpikir bahwa Anda tidak berguna dan tidak sukses, maka Anda tidak akan pernah berguna dan menjadi sukses, alias pasrah menghadapi kehidupan seperti kisah si miskin di atas. Sebaliknya, jika Anda berpikir bahwa hidup Anda punya makna dan tugas khsusus yang mampu Anda darma baktikan bagi sesama, maka akan tumbuh sikap dan tindakan serta tekad yang membuat Anda benar-benar berguna dan menjadi sukses sebagaimana si fotrografer baru yang mantan office boy di atas. Jadi, kata kuncinya adalah bagaimana mengendalikan pikiran. Menurut Newman, cara mengendalikan pikiran di antaranya:
1. Membaca. Membaca adalah salah satu cara efektif mengendalikan pikiran. Dengan membaca, pikiran akan terlatih dan berkembang. Dengan membaca, Anda mendapat perbandingan informasi, kritis, inovatif dan kreatif atau meminjam istilah Thomas L. Harison dapat mengubah cara berpikir.
2. Berpikir. Selain membaca, orang bisa mengendalikan pikiran dengan cara berpikir besar dan tidak gampang patah semangat bila gagasan yang bersumber dari pemikirannya dilecehkan. Cara ini akan menumbuhkan semangat juang dan semangat tempur. Musuh terbesar manusia adalah ketakutan, kekhawatiran dan keragu-raguan.
3. Diskusi. Selain pendapat Newman di atas, hemat penulis, Berdiskusi atau berdebat dengan orang lain bisa meningkatkan kreativitas berpikir. Berdebat atau berdiskusi adalah salah satu tradisi keluarga sukses di negara maju dalam membentuk cara berpikir anggota keluarganya.
4. Satu langkah lainnya dalam mengendalikan pikiran adalah dengan menginstal ulang pikiran kita terutama pikiran alam bawah sadar kita. Kenapa? Karena umumnya manusia bertindak berdasarkan alam pikiran bawah sadarnya terutama pada saat situasi genting dan emosional.
5. Bergaul dengan orang–orang yang lebih sukses dan lebih berpengalaman.
6. Dan menetapkan tujuan baru. Khusus untuk poin terakhir ini akan kita kaji lebih mendalam dalam bahasan berikutnya ( Segera terbit dalam buku berjudul: Ayat-ayat sukses ).

Baca selengkapnya......

Komentar Tokoh Tentang Buku 'Rahasia Sukses Para Juara'


"Buku Rahasia Sukses Para Juara Ditulis berdasarkan studi mendalam tentang sejumlah tokoh terkemuka di berbagai bidang profesi dan dengan merujuk berbagai literatur buku-buku biografi dan ajaran para maestro sukses dan ahli pemberdayaan-. Berbagai serakan khazanah mutiara sukses tersebut lantas dijahit dengan sangat apik oleh penulisnya yang memiliki pengalaman sebagai aktivis, wartawan, dan praktisi bisnis, sehingga menjadi konsep utuh dan aplikatif serta mudah diterapkan oleh pembaca dalam mengoptimalkan kualitas kesuksesan hidupnya. Buku ini cocok bagi Anda yang belum memiliki tiket dalam memasuki area pusat keunggulan suskes kehidupan dan memimpikan hidup sukses penuh bahagia tanpa penyesalan...
Buku ini adalah semacam roadmap untuk merebut hak ulayat dan jati diri sejati setiap insan, termasuk Anda juga. Anjuran saya, bacalah dengan bersemangat, kepakkanlah sayap percaya Anda, dan jadilah seorang juara pada bidang pilihan Anda. Sampai jumpa pada upacara pengalungan medali juara, suatu saat nanti!"
(Jansen H. Sinamo: Guru Etos Indonesia dan Penulis Buku Best Seller '8 Ethos Kerja Professional')

Baca selengkapnya......

Mengubah Sampah Menjadi Emas : Menelisik Makna Filosofis Kewirausahaan


” Entrepreneur adalah mereka yang bisa mengubah sampah menjadi emas”

Ada banyak pengertian tentang kewirausahaan. Konsep wirausahawan (Entrepreneur atau biasa disebut dengan entrepreneur) dapat diperoleh dari berbagai buku teks maupun kamus. Masing-masing pakar atau praktisi memberi pengertian sesuai dengan cara pandangnya dan atau amatannya tentang sisi-sisi tertentu yang menonjol dari perilaku sang entrepreneur tersebut. Ciputra sendiri misalnya memberi pengertian yang sangat sederhana, tetapi sarat makna filosofis. Ia mengatakan bahwa entrepreneur adalah mereka yang bisa mengubah sampah menjadi emas. Coba Anda renungkan sejenak pengertian brilian tersebut. Hemat penulis, dengan pengertian tersebut, sang Pengusaha Sukses ini memberi titik tekan terpenting pada karakter yang menonjol dari seorang entrepreneurs yaitu: Kejelian membaca peluang bisnis, Keberanian (mentalitas wirausaha), serta kapasitas memproduksi dan menjual dengan kinerja bernilai tambah tinggi sehingga mampu menjadikan sampah menjadi emas atau uang. Itulah sesungguhnya hakekat kewirausahaan meskipun dengan terminologi yang berbeda-beda.
Namun jika harus ditambahkan dalam pengertian tersebut, adalah pentingnya penerapan etos spiritual dan kepemimpinan manajemen sebagai ciri dari pengusaha modern – meskipun hal itu sesunguhnya sudah tercakup maknanya dalam kata ” bernilai tambah tinggi” dalam pengertian di atas.
Bagi Penulis, setiap pengusaha sejati harus memiliki karakter dan kompetensi tersebut. Motivasi luhur sebagai solusi maker atau a part of solution – not a part of problem, harus menjadi spirit dan motivasi pengusaha. Karena hakikat kelahiran setiap usaha adalah untuk memecahkan masalah pelanggannya dan menciptakan nilai tambah baru bagi kepuasan konsumen. Sebab tanpa nilai tambah tersebut tidak terjadi kepuasan pelanggan, dan tanpa pelanggan maka setiap usaha akan bangkrut alias berhenti beroperasi. Nah, di sinilah diperlukan kreativitas seorang pengusaha atau tim kerja yang membantunya.

Pandangan senada tentang pentingnya asset intangible ini juga disampaikan oleh Bob Sadino. Menurut tokoh ini-berdasarkan pengalamannya, modal untuk menjadi pengusaha itu ada dua: yaitu modal tangible dan intagible. Namun menurut tokoh ini dalam praktek di lapangan, modal yang jauh lebih berperan adalah modal intangible ketimbang modal tangible. Menurut Bob, seorang yang pengusaha yang modal intangible asset nya rendah, akan mudah patah arang jika menghadapi kendala. “Sedikit-sedikit mengeluh tidak punya modal. Giliran dikasih modal, mengeluh lagi tidak punya relasi. Dikasih relasi, mengeluh lagi tak punya jaringan distribusi. Dan seterusnya dan seterusnya. Akhirnya usaha itu berhenti sendiri karena mental yang mudah merasa terkendala.” tegas tokoh ini.
Pandangan senada juga dikatakan Martha Tilaar, seorang pengusaha wanita senior. Ketika ditanya bagaimana kiatnya membesarkan usahanya hingga sukses gemilang, dengan enteng tokoh ini mengatakan: adalah menjadi manusia “DJITU” alias” Disiplin, Jujur, Inovatif, Tekun dan Ulet”. Hanya dengan disiplin yang tinggi seseorang akan mampu mewujudkan visi usahanya. Kejujuran adalah modal untuk mendapatkan kepercayaan (trust). Seorang pengusaha yang kehilangan trust sama artinya telah kehilangan segalanya, tegas tokoh ini sebagaimana dikutip oleh Erman Suparno: Strategi Ketenagakerjaan Nasional Sebuah Upaya meraih keunggulan Kompetitif Global: 2009. Demikianlah para pengusaha sukses kita memberikan pengertian kewirausahaan dari pengertian yang cenderung rumit dan variatif menjadi sangat sederhana, tetapi inti visinya sangat jelas. Meski demikian, untuk memperkaya wacana kita tak ada salah nya berikut ini kita nukilkan beberapa pengertian lainnya tentang kewirausahaan

Kewirausahaan dalam bingkai Perubahan Zaman
Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan peradaban manusia, pengertian entrepreneur terus mengalami perkembangan makna. Jika pada awal lahirnya ciri wirausaha hanya diartikan sebatas makna broker atau usaha sendiri dengan fokus membuat produk atau jasa tertentu dan memasarkannya, kini terus mengalami perkembangan makna. Para wirausahawan modern, kini mulai memanfaatkan informasi sebagai peluang bisnis baru (passif) dan bahkan secara aktif mendayagunakan kemajuan tehnologi informasi untuk menjadi inovator, trendsetter bisnis (change driver) hingga pro aktif menciptakan informasi baru untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dan memenangkan persaingan (creator as entrepreneurship). Semua perubahan perilaku entrepreneurs tersebut, tentu saja semakin memperkaya makna kewirausahaan. Apa lagi kini, di era globalisasi, dimana para entrepreneur dunia berlomba-lomba mengusai pasar dengan memberi nilai tambah baru untuk memenuhi kebutuhan pasar (create some thing new from some thing something) hingga menentukan arah serta gerak persaingan biasa menjadi persaingan yang lebih hyper dan berbeda dengan cara mencipta produk atau jasa baru (Create something from nothing) yang belum pernah ada. Pola persaingan baru antara jawara entrepreneur dunia tersebut turut berkontribusi dalam memberikan pengkayaan makna terhadap pengertian wirausaha. Dengan demikian, perkembangan makna kewirausahaan akan terus mengalami perubahan selaras dengan pekerbangan zaman dan perubahan gaya hidup pengusaha dan masyarakat. Kita berharap dengan semakin berperannya para entrepreneurs Indonesia di pentas global akan turut menyumbangkan makna baru bagi kewirausahaan dunia dengan menyuntikkan etos kegotongroyongan (tanggung renteng) dan nilai-nilai spritualitas serta budaya timur adiluhung yang khas Indonesia dan termasuk etos bisnis tiada merugi tentunya.

Baca selengkapnya......

DAFTAR ISI BUKU ETOS BISNIS TIADA MERUGI

Daftar Isi

Pengantar Penulis
Pengantar Menteri


H. Asep Sulaiman Sabanda
- Milliarder Muda yang Membangun Bisnis untuk pemberdayaan Masyarakat
- Think Globally and Act Locally: Etos Kerja, Berorientasi pada Keunggulan
- Etos Bisnis Tiada Merugi
- Pembelajaran Bisnis terbaik: Mengelola Usaha Bisnis sambil terus Belajar
- Langkah seribu dimulai dari langkah Pertama
- Kembali Menuai Ujian bisnis dan Mene-mukan Konsep Bisnis Baru
- Pembelajaran Sukses Dari Asep Sulaiman
- Cerdas membaca Peluang, Berani gagal
- Menguasai Bisnisnya Secara Mendalam
- Filosofi Bisnis berbasis Nilai
- Analisis Kasus

Menelisik Makna Filosofis Kewirausahaan
Kewirausahaan dalam bingkai Perubahan Zaman
Jenis-Jenis Pelaku Usaha Dilihat dari Defenisi dan Makna Filosofis Kewirausahaan
1. Pengusaha Sebagai Agen
2. Pengusaha Manajer: Bekerja Dengan Tim Untuk Lebih Baik Dan Lebih Cepat Melayani Pelanggan
3. Pengusaha Trendsetter Bisnis
4. Pengusaha Sebagai Pemimpin Bisnis Dan Inovator
5. Pengusaha Sebagai Pencipta Sistem Kekayaan Sejati (Investor-Entepreneur)
6. Pengusaha Sebagai Agen Perubahan Sosial
7. Pengusaha Sebagai Agent Transformasi Nilai
Pengusaha Sebagai Oportunis Positif

Teori dan Kiat Sukses Memulai Usaha
7 Pertanyaan Kunci Ciputra Bagi Calon Pengusaha

Nyalakan Api Semangat, Temukan Peluang Bisnis di Sekitarmu
Peran Motivasi Dalam Meraih Sukses Dan Prestasi
Pelanggan adalah Raja
Di atas Pelanggan ada Nilai

Kenapa Pendidikan Kewirausahaan Diperlukan

Pengusaha sebagai agent penyebaran Virus Entepreneurship
Perang Modern adalah adu kreativitas dan strategi bisnis
Motivasi Spritualitas di
Balik Kesuksesan Para Konglomerat
Pilihan Ada Pada Diri Kita; Pecundang Atau Pemenang?

Virus Termahal di Abad 21 itu Bernama Virus Entrepreneurship?
Siapapun Bisa Menjadi Pengusaha, Tupoksi Pengusaha
Pengusaha dilahirkan (Genetika Entrepreneurship)
Pengusaha dapat diciptakan
Proses Lahirnya Ide Bisnis
Kompetensi Pengusaha di Era Globalisasi

Menyoal Kualitas dan Kuantitas Pendidikan Bisnis di Tanah Air
Tekad Grup Bakrie Mambangun Sekolah Bisnis Kelas Dunia
Tekad Group Bakrie Mencetak pengusaha Kelas dunia

Tupoksi Pengusaha
A. Aspek Kewirausahaan atau kepemimpinan (termasuk inovasi)
B. Kepemimpinan – Manajerial

Action Plan Bisnis
Merintis Usaha, Letakkan Batu Pertama
Mendobrak mitos kewirausahaan
Pernah Rugi dan Ditipu?
Usaha Yang Cocok Bagi Anda
Sempurnakan Manajemen Anda
Menentukan Mitra Usaha
Jagalah Keseimbangan: Menjadi Pengusaha Sukses Dan Kaya
Kelola hidup Anda sebagaimana bisnis harus untung

Apa Penyebab Banyak Pengusaha Gagal?
Konsep Bisnis Tiada Merugi
Bisnis tiada Merugi
1. Kecerdasan mengelola Uang
2. Mengetahui Berapa nilai riel Kekayaan
3. Sumber Asset dan Sumber Net-worth
4. Keberkahan Rezeki Hasil Usaha
Penutup
Daftar Bacaan
Tentang Penulis
Index :
A Abu Rizal Bakrie
Act Locally
adu kreativitas
Agen Perubahan Sosial
Amar Bhide
Aminuddin
Api Semangat
Arifin Panigoro
Asep Sulaiman Sabanda
B
Bakrie School of Management
Bambang Ismawan
Bambang Suharno
Bangladesh
Berani gagal
Bisnis Tiada Merugi 6, 129
Bob Sadino 29
Brian Tracy 46, 47
Budi Hartono 67
Burke Hedges 36, 50
C
Calon Pengusaha 47
Chairul Tanjung 67
Chandra 40, 42
Charles R. Kuehl 40
Chistoper Colombus 40
Ciputra 28, 47, 48, 53, 54, 58, 67, 69, 78, 146
Corporate Mistyc 4
D
David Mc Clelland 37, 38
DJITU 30
E
Echauz 78, 79
Eddy William Katuari 67
Edwin Soeryadjaya 67
Eka Tjipta Wijaya 67
Ernst & Young 4–3, 6–5, 11–9
ESQ 40
Etos Bisnis 6
Etos Kerja 5
F
Fadel Muhammad 61, 77
Fauzi Rachmanto 136
Filosofi Bisnis 20
Filosofis Kewirausahaan 28, 32
Frank Knight 34
G
Garuda Food 39, 54, 60, 67, 72
Genetika Entrepreneurship 76
Genetika pengusaha 74
Gontor 3, 5, 8, 10–9, 11, 70
Gorontalo 61, 77, 147
Grameen Bank 59
Griffin & Ebert 122
H
Hakim, Lukman 14
Hasyim Djojohadikusumo 67
Hendro 40, 42
Hypermarket 65
I
Imbang J. Mangkuto 83, 85
J
Jacob Oetama 67
Jean Baptise Say 63
Jean Baptista Say 33
Joseph Schumpeter 35
K
Keberkahan Rezeki 138
kegotongroyongan 31, 64
Konsep Bisnis 15, 129
L
langkah Pertama 11
Langkah seribu 11
Less Gibbin 44
M
Mall 65
Marcopolo 40
Martua Sitorus 67
membaca Peluang 17
Memulai Usaha 44
Metrovet Anugrah Lestari 10
Mochtar Ryadi 67
Multazam 16
Murdaya Poo 67
N
Napoleon Hill 49
Napoleon Hills 46, 140
nilai riel Kekayaan 135
Nurcholish Madjid 4
O
Om William 90
P
Paramadina Award 4
Peggy A. Lambing 40
Peluang Bisnis 52
Pembelajaran Bisnis 9
pemberdayaan Masyarakat 3
Perang Modern 63
Peter Sondakh 67
PKS Award 4
Putra Sampoerna 67
R
Red Piramid Change Spesialist 49
Richard Cantillon 33
Richard Cattion 63
Robert T Kiyosaki 142
S
Sandiaga Uno 67
Santika Berlian Nusantara 11
Santika Duta Nusantara 10
Santika Plastindo Utama 11
SBY-Boediono 33
Sinta Siregar 124
Sistem Kekayaan Sejati 36
Siti Hartaty Murdaya 67
Social Entrepreneur 11, 70
Stephen R. Covey 48, 49, 96, 124
strategi bisnis 63
Sudhamek Agung 54, 60, 67, 72
Sudono Salim 67
Sukanto Tanoto 67
Sumber asset 136
Sumber Net-worth 136
Surya Paloh 67
T
Tadjudin, Shobur 13
tanggung renteng 31, 64, 147
Think Globally 5
Thoby Mutis 80
Thomas L. Harrison 73, 74, 123
Trendsetter Bisnis 34
Tupoksi Pengusaha 74, 88
U
UIN Jakarta 83
Ujian bisnis 15
V
Virus Entrepreneurship 72
virus N Ach 38
W
Wasty Soemanto 39
Wiliam Soeryajadya 78
William Soeryadjaya, M. 39
Y
Yoseph Schumpeter 63
Young Entrepreneurs 53

Baca selengkapnya......

Sabtu, 15 Mei 2010

Pengantar Buku Etos Bisnis Tiada Merugi ---------- Karya DH. Ismail Sitanggang, M.Si.















YUK, JADI PENGUSAHA
Hisyam Sulaiman, MBA
Ketua Bakrie Untuk Negeri dan Ketua CFCD DKI JAYA


Pada prinsipnya, Semua manusia ingin sukses dan menjadi kaya! Itu manusiawi. Fakta membuktikan, memang tersedia banyak cara, dan jalan untuk menjadi sukses dan kaya, sebagaimana pepatah mengatakan, ada seribu jalan menuju Roma. Persoalannya, tidak setiap orang terampil memilah-milih jalan sukses dan kaya yang tersedia tersebut. Padahal pengalaman orang sukses dan kaya mengandung butiran hikmah, teladan, yang sangat berguna bagi modal orang muda untuk menapaki jenjang sukses dan kaya tersebut secara lebih cepat dan lebih baik. Kenapa?
Meniru adalah proses pembelajaran yang alami namun efektif bagi manusia. Lihatlah anak-anak betapa cepat sekali mereka belajar dengan hanya menirukan apa yang dilihat, didengar, dan diamatinya.
Dalam dunia bisnis, banyak tampil para pengusaha sukses dan kaya. Untuk sampai kepuncak tangga sukses tersebut, pastilah mereka butuh waktu lama, tenaga, biaya, proses jatuh bangun. Nah, para pebisnis muda dan siapa saja yang ingin sukses dijalur wirausaha, tak perlu mengulangi kegagalan dan proses trial and error mereka jika sejak dini mau membuka mata, pikiran dan telinga untuk belajar dari pengalaman mereka. Abaikan jebakan-jebakan sukses dan Ambil dan tirulah pengalaman terbaiknya!
Pepatah mengatakan, ” guru terbaik adalah pengalaman yang berharga”. Namun penulis menambahkan, jenis pengalaman itu ada dua; pengalaman yang langsung kita rasakan sendiri dari jatuh bangun menjalani bisnis dan juga pengalaman yang dialami orang lain dalam menjalani bisnisnya. Nah, Kedua pengalaman tersebut, perlu kita pelajari dan kita jadikan cermin sukses untuk meraih masa depan gemilang. Nasehat bijak ini pula yang senantiasa kami sampaikan, ketika kami dipercaya membina dan mendampingi ratusan bahkan ribuan UKM binaan perusahaan.
Buku yang ditulis, DH. Ismail, sungguh, sangat tepat, dan pas untuk menjadi bacaan bagi pengusaha muda dan pelaku UMKM untuk merebut hak ulayat suksesnya. Dalam buku ini terkandung hikmah, dan pengalaman banyak pebisnis, character, langkah dan strategi serta kandungan kreativitas para pebisnis sukses yang dapat anda pelajari.
Saya mengenal saudara DH. Ismail - Penulis buku ini ketika bersama-sama menjadi menjadi narasumber dalam seminar UKM di Jakarta Convention Centre. Dimana kami berdua menjadi pembicara dalam forum pameran dunia usaha tersebut membahas tema: Peta Jalan Menjadi Pengusaha Sukses dan Kaya bagi UKM.
Pada saat itu kesan saya, betapa pemuda ini sangat menguasai bidang UMKM, sehingga meskipun dalam kesempatan tersebut ada kendala teknis-yakni OHP dan infokus tidak berfungsi, namun Saudara DH.Ismail tetap tampil prima, dan mampu menyampaikan materinya di luar kepala, penuh bersemangat pula hingga menghipnotis peserta seminar yang hadir.
Beberapa minggu kemudian, kami bertemu dan baru mengetahui bahwa pemuda ini, selain pengusaha juga terampil menulis dan bahkan telah menerbitkan beberapa buku dibidang kewirausahaan.
Dengan bekal dan keahlian yang dimilikinya Sebagai Pelaku Usaha, Penulis, dan juga motivator handal, , kita berharap bahwa saudara DH.Ismail akan menjadi aktor pemberdayaan Ekonomi tangguh di masa depan yang dibutuhkan oleh Bangsa ini.
Akhirnya, kiranya buku saudara DH.Ismail, berjudul Etos bisnis tiada merugi ini dapat menggelorakan spirit bisnis bangsa ini. Kami berharap dengan terbitnya buku-buku bermutu semacam ini, akan banyak pemuda bangsa ini yang akan terjun kesektor wirausaha sebagai medium pengentasan kemiskinan dan penguatan kualitas hidup masyarakat.
Wisma Bakrie, kuningan, Jakarta, Februari 2010.

Baca selengkapnya......

Selasa, 27 April 2010

Life time Achievement for entrepreneurs

Berbicara tentang entrepreneurship tak lengkap dan etis jika kita tidak menyebut nama-nama besar seperti Richard Cantillon, Jean Baptista Say, Franck Knight, dan Josep Schumpeter serta Mc Clelland. Mereka adalah para ekonom yang mendedikasikan dirinya untuk mempelajari apa arti entrepreneurship dan mempromosikan bagaimana keunggulan etos entrepreneurship bagi kemajuan peradaban manusia. Tanpa upaya kerja keras mereka bisa jadi, peradaban dunia yang lebih maju, lebih kreatif, dan lebih kompetetif bisa jadi masih berupa impian atau wacana. Tetapi kini para pewirausaha menjadi legenda perubahan, actor utama pembangunan, salah satunya karena jasa pendekar-pendekar hebat tersebut.
Di Indonesia, patut kita sebut beberapa nama dan lembaga yaitu Sarikat Dagang Islam, Achmad Bakrie, Om William, TD. Pardede, Achmad Kalla, Hasyim Ning dan beberapa tokoh pendekar dan teladan kewirausahaan bangsa ini. Hemat penulis, bangsa ini, perlu memberi apresiasi yang wajar kepada para tokoh wirausaha tersebut, termasuk dengan menobatkan mereka sebagai pahlawan bangsa. Dengan upaya ini, bangsa ini telah menegaskan komitmen tulusnya untuk memotivasi generasi muda untuk menjadi pengusaha demi ketahanan ekonomi bangsa. Kaitannya dengan visi besar tersebut dalam buku ini penulis angkat satu kisah singkat tentang seorang legenda pengusaha bangsa ini bernama Achmad Bakrie serta kuotasi-kuotasi para tokoh, pemimpin tentang kewirausahaan.
CERMIN SUKSES DARI PARA BAKRIE BERSAUDARA

Menjadi Miskin bukan hambatan untuk maju. Asal ada kemauan dan cerdas bekerja serta memiliki karakter mempesona, pastilah cita-cita akan tercapai. Pelajaran inilah yang patut kita warisi dari H.Ahmad Bakrie, ayahanda Abu Rizal Bakrie, Nirwan D. Bakrie, Indra Bakrie dan Roosmaniah dan Pendiri PT. Bakrie Brothers salah satu perusahaan Pribumi berkelas dunia saat ini.

Ahmad Bakrie terlahir dari keluarga sederhana di Kalianda 1 Juni 1916. Putra pasangan dari Oesman Batin Timbangan dan Chodijah ini telah memiliki bakat enterpreneurship sejak belia. Ahmad Bakrie telah mulai berdagang roti keliling kampung sejak usia 7 tahun. Namun aktivitas dagangnya sempat terhenti sejenak, ketika remaja cilik tersebut harus bersekolah di Lampung Utara dan bekerja di kantor kontrolir Sukadana dan sebuah perusahaan swasta.

Nah, hasil upahnya dari pekerjaan tersebutlah yang digunakan pendiri Bakrie Brother ini melanjutkan studinya dan menjadi modal awal ketika merintis usahanya kemudian. Pola kerja, menabung dan menggunakan keuntungannya untuk biaya belajar sekaligus mengembangkan usahanya inilah yang menjadi strateginya menjadi pengusaha sukses dimasanya.

Bahkan demi meningkatkan cara berfikir enterpreneurshipnya, tokoh ini harus hijrah ke Jakarta untuk mendalami ilmu akuntansi dan bahasa inggris. ilmu akuntansi adalah salah satu disiplin ilmu yang sangat diperlukan oleh seorang pengusaha dan demikian juga dengan bahasa Inggris sebagai kunci membuka ilmu pergaulan kelas dunia. Jadi bisa dibayangkan, jika pada seusia semuda Ahmad Bakrie masa itu, visi atau kerangka suksesnya telah melampaui ukuran zamannya.
Nah, barulah setelah selesai menempuh studinya di Jakarta, Ahmad Bakrie Muda kembali pulang kampung untuk membangun usaha dari desanya. Namun berhubung modal kerjanya sudah kadung kepakai untuk studi, maka ia pun lantas harus terlebih dahulu bekerja pada bagian penjualan di Perusahaan orang lain.
Menurut Bradley Sugars, cara terbaik bagi mereka yang tidak punya modal dan pengetahuan bisnis untuk menjadi pengusaha adalah terlebih dahulu bekerja diperusahaan orang lain.
Nah, selaras dengan tesis Bradley Sugars tersebut dan karena memang tujuan Ahmad Bakrie, sudah jelas yaitu untuk menjadi pengusaha, maka saat itu ia tak lupa mengumpulkan modal usaha nya dengan menabung penghasilannya dari gaji dan komisi nya. Berhubung modal tersedia masih sangat terbatas, maka tokoh ini terlebih dahulu untuk menjadi suplier obat sehingga memperoleh untung yang besar. Dengan keuntungan tersebutlah kemudian Ahmad Bakrie bersama kakaknya Abu Nyamin secara resmi mendirikan PT. Bakrie & Brothers, tepatnya tanggal 10 Februari 1942. Awalnya perusahaannya bermarkas di Teluk Betung ini bergerak dibidang perdagangan dan hasil bumi.
Sukses membesarnya usaha kecil menjadi usaha menengah, maka tokoh ini kemudian membeli perusahaan logam milik Belanda. Dengan prestasi tersebut, maka Ahmad Bakrie telah dikenal sebagai pengusaha sukses saat itu. Namun demikian tokoh ini tak berhenti berinovasi dan juga tak membuatnya terjebak pada comport zone –sesuatu yang menjadi zat kematian bagi siapapun yang ingin maju. Ahmad Bakrie justru terus mengembangkan kompetensinya dengan terus belajar dan belajar. Berbagai buku sejarah, ekonomi, filsafat hingga seni budaya dibacanya hingga membuatnya terkenal sebagai pengusaha kutu buku dikalangan pengusaha seangkatannya.
Etos sukses berbasis kerja cerdas dengan menggunakan keuntungan usaha untuk pelipatgandaan kekayaan dan investasi ilmu bisnis inilah yang patut ditiru oleh kita generasi muda. Etos Adaftif terhadap tuntutan perubahan tersebutlah yang tampaknya juga diwariskan oleh tokoh ini, kepada putra-putranya. Tak heran, kini tradisi belajar dengan pendidikan terbaik tampak membudaya dalam keluarga besar Ahmad Bakrie. Abu Rizal Bakrie adalah alumni ITB dan kedua adiknya, Nirwan D. Bakrie, Indra bakrie keduanya alumni Amerika. Kemudian generasi ketiga dari putra-putri ke 4 putra Ahmad Bakrie seperti Anindia Bakrie lulus dari sebuah perguruan tinggi di Amerika dan bahkan ketika tulisan ini dibuat, penulis mendengar cucu pendiri Bakrie Brother ini sedang mondar mandir Amerika - Indonesia untuk terus meng upgrade kompetensi suksesnya, padahal ia telah dipercaya menjadi Petinggi KADIN. Sebuah teladan yang patut ditiru oleh para orang tua dan pengusaha muda di negeri ini.
Apa implikasi dari cara cerdas berbisnis semacam itu? Jika Ahmad Bakrie berhasil mendirikan PT. Bakrie Brother hingga menjadi perusahaan pribumi terbaik kebanggaan nasional, kini dibawah nahkoda kepemimpinan bisnis generasi kedua, Perusahaan ini bercita-cita menjadi kebanggaan Asia dilevel Global dan tidak mustahil nantinya jika PT. Bakrie Brother dengan ratusan grup usahanya ditangan putra-putranya –generasi ketiga akan berhasil menjadi salah satu pemain utama dunia yang diperhitungkan.
Untuk tujuan besar tersebut, Kini keluarga Bakrie dan PT. Bakrie Brother tak henti-hentinya melakukan pembinaan kader pebinis tangguh dan juga sedang mencetak tunas wirausaha muda melalui pendirian Bakrie School of Management . Melalui lembaga Pendidikan bisnis modern ini, - dimana sebagian besar mahasiswa nya dibiayai oleh Dana amal keluarga pengusaha sukses ini diharapkan akan lahir Achmad Bakrie-Ahmad Bakrie lainnya yang menjadi pelopor kemajuan ekonomi bangsa ini. Menurut Imbang J. Mangkuto- Direktur Eksekutif sekolah bisnis ini, melalui BSM diharapkan akan dicetak pebisnis muda Indonesia kelas dunia, sebagaimana obsesi Ahmad Bakrie terhadap putranya –putranya. Melalui etos cerdas semacam ini, Ahmad Bakrie & Familiy tak hanya ingin kaya sendirian tetapi juga ingin kaya bersama bangsa. Siapa mau meniru?
Kuotasi Sukses Achmad Bakrie Tentang kesuksesan, kewirausahaan dan lain-lain
 A man who live too gloriusly must often die violently ( seorang yang hidupnya terlalu mewah, terkadang mati dengan kekerasan)

 Hubungan kekeluargaan bercampur bisnis, tunggulah dua hal hilang sekaligus: uang dan keluarga ( Sebagaimana disampaikan oleh Alamsyarah Ratu Prawira Negara Mengutip Pendapat Achmad bakrie)

 Kalau pengusaha mengadakan pendekatan politik maka dia bisa jatuh berbarengan dengan rontoknya system politik tersebut. Tapi kalau mengadakan pendekatan pasar, maka politik yang bagaimanapun,sepanjang pasar masih terus mengalir dan menerima produknya, dia akan tetap langgeng ( komentar Cristianto Wibisono tentang Manajemen Bisnis Achmad bakrie yang independent secara politik)

 ” Jika Indonesia Inc ingin ditegakkan atas dasar kekuatan produktif sejati, maka sektor swasta tulen seperti Achmad bakrie harus digerakkan, diberi tempat serta apresiasi yang wajar” (Cristianto Wibisono )

 ” Indosia inc, yang kita cita-citakan dapat mengembangkan amanat persaingan bisnis internasional, memang sekarang ini memerlukan ratusan, ribuan penerus figur Achmad Bakrie, baik secara biologis, berupa anak-anaknya, maupun secara kultural dari tubuh nasion Indonesia. Wiraswasta pribumi kaliber Achmad bakrie dilipat gandakan, yaitu wiraswasta yang mampu melihat dan memanfaatkan peluang, berproduksi dalam kancah persaingan pasaran bebas, berkarya dalam konteks komposisi ketat di pasaran internasional, bertanding tanpa proteksi khusus dan lisensi istimewa....

 Pembinaan semangat kewiraswastaan dengan model achmad Bakrie patut kita tingkatkan terus menerus ...................Institusi yang dipimpin Cristianto juga menawarkan ide simpatik yang mengandung nilai educatif tentang patutnya disponsori semacam” bakrie award” bagi pengusaha terbaik, perusahaan terbaik atau wiraswasta terbaik tahun ini. ” Kriterianya antara lain jelas asal usul perusahaannya, pengusahanya, kapan mulai bergerak. Modal dengkul boleh, tetapi jelas perolehan profit utamanya. Mencari yang terbaik bukan berarti yang terbesar untuk menghindari pemenang ” yang itu itu juga”. Dari ”Bakrie award” itu niscaya muncul semangat kewiraswastaan ” bakrie-bakrie kecil” tetapi bermutu dan itu pasti ada, hanya belum menonjol saja. Diandaikan, Kalaulah seorang secara kreatif menghasilkan satu produk mulai dari nol,lalu berkat prestasinya hingga menjadi jutawan, maka ia patut diberi bintang. Sebaliknya, walaupun ia berhasil memperoleh nilai kontrak milyaran rupiah tapi bisnis itu sekedar ” broker” jatah lisensi dan rezeki kontrak yang diperoleh karena ayah, paman, atau famili pejabat berwenang memberi pekerjaan, maka dengan sendirinya ” masuk kotak”. ( Cristianto Wibisono )

 ” Profesinya itu ia barengi dengan keyakinan agama yang tebal. Sukar ditandingi” komentar ( Soedaerpo Sastrosatomo tentang rahasia sukses Achmad Bakrie. inilah cuplikan buku etos bisnis tiada merugi. buku ini diterbitkan oleh Pustaka Alkausar Jakarta.

Baca selengkapnya......

Senin, 26 April 2010

Perang Modern adalah adu kreativitas dan strategi bisnis

Kewirausahaan adalah semangat, sikap, perilaku dan kemampuan seseorang menangani usaha dan atau kegiatan yang mengarah pada upaya mencari, menerapkan cara kerja, tehnologi dan produk baru dengan meningkatkan efesiensi dalam rangka memberikan pelayanan lebih baik kepada pelanggan dan memperoleh kepuasan dan keuntungan dari kinerja tersebut. Dengan pengertian tersebut, seorang pengusaha dituntut keberanian mandiri, menciptakan peluang bisnis baru dan mengelola sebuah risiko, dan fokus pada penciptaan nilai tambah baru. Orientasi pada penciptaan nilai tambah atau manfaat terbaik bagi konsumen serta lingkungannya tersebut yang menjadikan komunitas pengusaha ini layak memperoleh keuntungan dan status sosial yang tinggi. Dengan demikian, kewirausahaan yang sejak tahun 1725 ini sudah mulai dikenalkan oleh Richard Cattion dan Jean Baptise Say (1803) serta Yoseph Schumpeter (1934) pada level tertentu dapat dikatakan sebagai salah satu instrumen untuk mencapai keberdayaan orang pada level tertentu.Seiring dengan perkembangan zaman dan kemajuan peradaban manusia, entrepreneur terus mengalami perkembangan makna. Jika pada awal lahirnya ciri wirausaha hanya diartikan sebatas makna usaha sendiri, dan fokus pada memasarkan sebuah produk atau jasa tertentu, kini terus mengalami kemajuan dan perkembangan makna. Dalam dekade terakhir, ketika teknologi sudah menjadi komoditas, dan ketika globalisasi telah mendunia, maka para entrepreneur tidak memadai lagi hanya memberi nilai tambah untuk memenuhi kebutuhan pasar (create some thing new from some thing something). Pola persaingan baru antara jawara entrepreneur dunia telah memasuki ranah mengatur pola persaingan dan menentukan arah serta gerak persaingan biasa menjadi persaingan yang lebih hyper dan berbeda (Create something from nothing). Berbagai perubahan tersebut turut berkontribusi dalam memberikan pengkayaan makna terhadap wirausaha. Kita berharap dengan semakin berperannya para entrepreneurs Indonesia di pentas global akan turut menyumbangkan makna baru bagi kewirausahaan dunia dengan menyuntikkan etos kegotongroyongan (tanggung renteng) dan nilai-nilai spritualitas serta budaya timur adiluhung yang khas Indonesia tentunya. Seiring dengan berbagai kemajuan tehnologi dan informasi, dunia telah menjadi satu alias tanpa batas.
Globalisasi pun telah mewariskan pasar bebas ekonomi yang memungkinkan pelaku ekonomi dunia bertarung tanpa boleh diproteksi oleh suatu negara. Bisa dibayangkan, jika bangsa tercinta ini tidak segera proaktif melindungi para pengusahanya, apa gerangan yang terjadi jika kemudian hari para pengusaha asing yang menentukan arah perekonomian nasional kita? Pengusaha asing tersebut akan mendikte arus distribusi dan pemasaran produk serta kebutuhan vital dalam negeri jika kita sejak dini tidak menyiapkan entrepreneurs baru nan tangguh? Inilah yang disebutkan oleh sejumlah jenderal penting di negeri ini sebagai ”era perang modern”. Perang modern tersebut tidak lagi berbasiskan senjata, tetapi telah memasuki area melalui baju ekonomi: adu kecerdasan inovasi bisnis berbasis tehnologi, kecerdasan investasi, adu kuat finansial. Jadi tak berlebihan, jika di era globalisasi ini, ketahanan suatu bangsa sangatlah ditentukan sejauh mana para entrepreneurs suatu negara memiliki etos, heroisme, kreativitas bisnis serta kecerdasan menguasai pasar ekonomi global yang terbuka tanpa batas dan sekat tersebut. Inilah hukum besi persaingan usaha bebas- the winner takes all.
Para pengusaha yang lamban merespon perubahan dan ”lelet” memperbarui kompetensi kewirausahaannya akan segera tertinggal. Hadirnya Mall dan Hypermarket di berbagai sudut kota yang meminggirkan pasar –pasar tradisional adalah contoh nyata dari jenis perubahan dari sistem ekonomi baru tersebut. Untuk menghadapi era baru persaingan tanpa batas ini, hemat penulis yang diperlukan tidak saja perlunya proteksi dan stimulus pemerintah dalam mendukung pertumbuhan tunas wirausaha muda dan pemberdayaan pengusaha UMKM tetapi juga harus ada kesadaran dari sisi entrepreneurs sendiri untuk merubah etos dan perilaku berbisnisnya supaya kompatibel dengan globalisasi. Ciri khas dari gaya kepemimpinan bisnis modern yang patut kita teladani misalnya adalah pada kompetensinya menerapkan manajemen bisnis berbasis good corporate govennance serta penggunaan tehnologi modern dan kreativitas bisnis.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa ”takdir” suatu bangsa hari ini dan nanti- apakah akan menjadi pemain global - penonton – atau korban globalisasi, sangatlah ditentukan oleh kualitas dan kuantitas para pengusahanya. Jika suatu bangsa melalui kehandalan entrepreneursnya dapat menguasai serta mewarnai pasar ekonomi dunia seperti yang kini dilakukan oleh Cina, Jepang, Amerika dan India, serta secara sadar mentransformasikan etos entrepreneurshipnya kepada masyarakatnya, maka bangsa tersebut akan dipandang secara bermartabat dan menjadi penentu arah ke mana pendulum peradaban akan bergerak. Sebaliknya, jika suatu bangsa gagal mencetak tunas wirausahawan muda terdidik, dan melipatkangandakan jumlah pengusaha tangguhnya, maka dalam jangka panjang, takdir bangsa tersebut hanyalah menjadi pemakai produk asing dan atau pengekspor bahan mentah tanpa berhasil memperoleh nilai tambah ekonomis dari kekayaan alam nya hinga menjadi bangsa kuli di negerinya sendiri. Inilah tugas besar para pemimpin baru dan kaum muda negeri ini kini. Yakni mengembalikan kekayaan negeri ini untuk kesejahteraan pada anak cucu kita. Pilihannya ada pada diri kita pribadi dan tentu saja political will dari para pemimpin kita. Kalau bukan kita siapa lagi? dan kalau bukan sekarang, kapan lagi?

Baca selengkapnya......